Apabila kita renungkan kehidupan yang dijalani manusia di zaman sekarang ini,yang dihiasi dengan fenomena materialisme, pada hakekatnya semua itu adalah sebuah gambaran dari fatamorgana.
Ada yang memiliki obsesi dan ambisi oleh jabatan, dengan anggapan bahwa apabila ia mendapatkannya maka hidupnya akan menjadi bahagia.
Ada yang berambisi dengan harta, dengan angan2 bahwa hartanya akan membahagiakannya.
Dan ada pula yang memiliki obsesi pada wanita, dengan khayalan bahwa wanita dambaannya akan menjadikannya bahagia,Namun itu semua akan sia2 belaka.
Karena semakin ia meraihnya, maka ia akan semakin merasa belum meraihnya,bahkan ia akan semakin menginginkan yang lebih dan lebih,hingga akhirnya ajal datang menjemputnya sedangkan hatinya telah diperbudak oleh dunia.
Keindahan dunia yang mempesona pada hakekatnya
hanyalah merupakan fatamorgana. Manusia merasa bahwa apabila ia telah sampai dengan apa yang diinginkannya, maka ia akan bahagia. Namun kenyataannya, semakin manusia mengejar dunia, maka ia akan semakin haus dan menjadi semakin rakus.
Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan kehidupan abadi di akhirat. dalam bahasa Arab, dunia mempunyai arti yang berkonotasi “tempat yang sempit, gaduh dan kotor” Nikmat sehat akan terasa bila seseorang sakit, nikmat sempat akan dirasakan ketika dalam kesempitan, dan nikmat hidup hanya dapat dirasakan setelah mati. Manusia menganggap usia 60-70 tahun di dunia sangat panjang dan memuaskan.
Padahal, hal yang pasti adalah kematian,
sejauh angan manusia untuk menjauhinya, maka angan itu adalah sebuah waktu yang terus berjalan, perjalanan
waktu adalah perjalanan kehidupan yang pasti akan
sampai ke finish.
ketika kematian mendekat, baru disadari betapa singkatnya waktu di dunia. Pada hari dibangkitkan kelak Allah akan bertanya kepada manusia.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar