Selasa, 15 November 2016

10 Ramalan Syiah Kuala Tentang Aceh Masa dulu Dan Sekarang

Ramalan Syiah Kuala memberikan gambaran bagaimana Aceh dahulu dan Aceh dimasa yang akan datang.
Apa isi dari ramalan Tgk Abdul Rauf Siyah Kuala tersebut..?

Yang dibacakan oleh Tgk Ilyas Puteh dalam kitab huruf Arab kuno, ramalan Syiah Kuala antara lain berbunyi sebagai berikut:

1. Bahwa lebih kurang dalam tahun 1260H, Nanggroe Aceh akan di timpa bala bencana.

2. Bahwa dalam tahun 1320H, Aceh akan dikalahkan oleh kerajaan BA yang datang ia dari pihak barat.

3. Bahwa beberapa lama kemudian (lebih kurang) 45 musim kerajaan BA dikalahkan oleh kerjaan
JIM yang datang ia dari Matahari terbit.

4. Bahwa lebih kurang empat musim menguasai Aceh oleh kerajaan JIM tiba-tiba ia keluar dengan sekelip mata karena ia dikalahkan oleh Peuraja Ajam, Peuraja Gajah, Peuraja Cagee, Peuraja Singa dan Peuraja sebagainya.

5. Setelah kerajaan Jim keluar maka Nanggroe Aceh dan negeri dibawah angin lainya atas usaha isi negeri itu akan berdiri satu kerajaan yang menaklukkan Nanggroe Aceh dan negeri dibawah angin lainya bernama kerajaan itu berawal dengan huruf Alif dan berakhir dengan huruf Jim.

6. Kerajaan itu akan berdiri sampai kuat, tetapi negeri itu penuh dengan huru-hara dan banyak pertumpahan darah. Rakyat banyak melakukan kemudlaratan dan kehidupan mereka susah, perdagangan mahal, pakaian dan makanan mahal, yang pandai tutup mulut, orang besar banyak dusta, semua rakyat berpaling muka dari pembesar pembesar itu, perampasan terjadi disetiap simpang, tidak bersenjata dan banyak orang dimasa itu sangat suka merah dan kuning dengan menanti yang tidak mngaku ALLAH dan bermusuh dengan agama yang ada dibumi.

7. Bahwa waktu itu ummat Islam banyak tersesat karena kurang Ilmu, kurang Amal, lemah Iman dan banyak Dosa. Ketika itu banyak ummat Islam meninggalkan mazhab yang empat dan membuat mazhab kelima dan itulah tanda huru hara serta kutuk dan bala.

8. Manusia pada waktu itu banyak membuang adat-istiadat sendiri dan memakai adat-istiadat orang lain. Pada masa itulah manusia banyak meninggalkan syariat Nabi Muhammad Saw, dan mengkafirkan 'Itiqad Ahlul Sunnah Waljama'ah. Pada waktulah orang Negeri banyak mengikut huruf enam dan ada juga yang suka kepada huruf bergaris Fa , Kaf , Jim atau sama dengan Kaf, Mim , Jim , Nun dan Sin. Mereka itu tidak mengakui adanya Tuhan Rabbal 'alamin.

9. Bahwa nanti akan datang pada suatu masa rakyat akan bangkit dengan penuh amarahnya seperti api membara, bermaksud membela negeri dan bermaksud hendak melepaskan diri dari kuning dan merah, dan sebagainya. Akan tetapi kelakuannya bermacam-macam ragam dan pada akhrinya yang memindahkan kuning dan merah dialah yang menang, yakni golongan yang tidak suka kepada pekerjaan atau perbuatan yang salah serta berdirilah agama menurut Ahlul Sunnah Waljama'ah yang bermazhab dengan majhab dari majhab yang empat. Nanggroe aman, damai, adil, makmur seperti dahulu kala, yakni akan menang orang orang yang beriman. Wassalam.

10. Pada tahun 1440 H. Negeri Aceh Akan dikuasai oleh Kerajaan Ajam (Rakyat) yang dipimpin oleh pemimpin yang timbul dari rakyat yang berdarah pemimpin adee.
Manusia pada waktu itu kuat agamanya, kuat imannya,bidang ibadah dan pengajian di dayah-dayah sangat ramai dari orang menuntut ilmu, tapi manusia pada waktu itu banyak yang takut, baik orang biasa,tgk dayah, orang mengaji dan tgk-tgk di kampung sangat takut kepada penyakit yang tidak dapat dikesan, diperiksa dengan alat medis. Penyakit itu ialah tenun atau sihir karena banyak manusia kala itu juga menuntut dan mengamalkan ilmu-ilmu sihir atau ilmu hitam.

Kala itu, masa datangnya pemimpin ade yang menjalankan adat dan hukom. sampai negeri aman, damai, adil dan makmur, sejahtera seperti dahulu kala.
akan berdiri kembali Kesulthanan Aceh Serambi Makkah.

Wassallam. Wahusnul Khatimah Ala Mantabial Huda. Wallahu Aklam Bissawab.

Kitab Mandiyatul Badiah. Syech Abdul Raul Syiah Kuala.

#Copas
Semoga bermanfaat

Sabtu, 20 Agustus 2016

Perjalanan Hidup Habib Umar Bin Hafidz

Habib Umar bin Hafidz dari waktu ke waktu

* 1972 : Beliau hanyalah seorang anak yatim berusia 9 tahun yang baru saja kehilangan ayah dan pendidik utamanya (Habib muhammad bin Salim) yang diculik dan dibunuh oleh rezim komunis yang berkuasa di Yaman Selatan kala itu, usai wafat sang ayah, beliau dan ibunya seringkali tidak makan berhari-hari karena tidak ada lagi yang menafkahi, dunia tidak bersahabat dengannya.

* 1981 : Pemerintah komunis penjajah yang berkuasa di Yaman semakin menjadi, mereka membunuh dan menyiksa para ulama, menutup rubat-rubat dan madrasah serta melarang semua hal yg berbau islam, keluarganya khawatir beliau akan bernasib sama seperti ayahnya, akhirnya ia terpaksa ''dilarikan'' ke kota Baidha, Yaman utara, selama 11 tahun beliau belajar,mengajar dan menikah di kota itu, setelah menikah beliau tinggal di sebuah rumah kecil dgn 3 ruangan(kamar,dapur,­dan toilet), beliau pun terpaksa ''mengungsi'' di dapur ketika teman-teman istrinya datang bertamu, dunia masih enggan bersahabat dengannya

* 1992 : Beliau kembali lagi ke kota Tarim bersama istri dan anaknya, karena belum punya tempat tinggal, beliau menumpang di rumah kakaknya AlHabib Ali Masyhur (Mufti Tarim saat ini), anaknya menceritakan keadaan saat itu :

''Kami tinggal dikamar yang sangat sempit, hanya cukup untuk 3 orang,aku,abahku dan ibuku, begitu sempitnya sampai-sampai abahku harus sholat tahajjud di jalan antara kamar dan toilet..ketika kami pindah ke rumah baru di kawasan ‘Aidid, aku seakan-akan baru masuk surga..''

* 1994 : Beliau mulai memiliki beberapa murid dari Yaman dan Indonesia, setiap selesai sholat subuh beliau harus menyetir mobil dari tarim ke kota Seiwun (sekitar 30 km dari Kota Tarim) guna membeli sarapan pagi untuk murid-muridnya, beliau dan keluarganya seringkali memakan sisa roti atau nasi murid-muridnya, karena dirumahnya tidak dijumpai makanan sama sekali), bahkan di hari raya beliau dan keluarga hanya bisa memakan sebungkus biscuit (padahal semisikin-miskinnya orng sini masih bisa makan daging waktu lebaran),waktu itu,ia hanya berkata pada anak-anaknya :

''Apakah ada yg kurang dari hidup kita meski kita cuma memakan biskuit di hari raya.. ?''

* 2015 : ketika banyak mata di dunia tertuju kepadanya, ketika semua bibir berebut mencium tangannya, ketika semua telinga menunggu setiap apa yg keluar dari lisannya, mereka mungkin tidak tahu bahwa beliau dulu adalah seorang anak yatim yang sempat ''diragukan'' masa depannya,.

Seluruh yang didapatkan Habib Umar saat ini adalah buah dari ketulusan,kesabaran dan keteguhan beliau dalam mengarungi kehidupan.

Habib Ali AlJufri salah seorang murid senior beliau pernah berkata :
''Habib Umar adalah contoh dari seorang yang tidak pernah menyerah pada kehidupan, sepahit apapun cobaan hidup yg ia rasakan..''

Demikianlah secuil perjalanan hidup guru mulia Habib Umar bin Hafidz yang penuh makna dan pelajaran,

*Cerita ini dikumpulkan dari berbagai sumber antara lain, Habib Ali AlJifri, Sayyid Salim bin Umar, Syeikh Fahmi Ubaidun dan asatidz Darul Musthafa lainnya.

Wallahu a'lam

Kamis, 21 Juli 2016

Aceh Menangis : INALILLAHIWAINNAILAIHI'RAJIUN Tgk. H. Mukhtar Luthfi bin Tgk. H. Abdul Wahhab Berpulang Kerahmatullah

Pada Kamis pagi (21/07/2016) kabar duka tersiar dari Dayah Ruhul Fata Seulimuem. Tgk. H. Mukhtar
Luthfi bin Tgk. H. Abdul Wahhab yang biasa disapa dengan Abon Luthfi telah kembali ke pangkuan Ilahi.

Almarhum merupakan alumni dari Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang semasa dengan Almarhum Ahmad Dewi. Abon adalah anak dari Tgk. H. Abdul Wahhab bin ‘Abbas yang merupakan pimpinan pertama Dayah Ruhul Fata Abu Seulimuem. Beliau juga merupakan alumni pernah berguru di Dayah MUDI pada masa Tgk. H. Hanafiah bin 'Abbas ( Teungku Abi).

اللهم اغفر له وارحمه وعافه وعف عنه
Sumber Rujukan www.mudimesra.com
Share :

Rabu, 09 Maret 2016

sadar dalam sadarku

Berawal dari sebuah perkenalan,
antara aku dengan dirinya,
yang terus berjalan seiring waktu berlalu,
di hiasi indahnya senyuman dalam pandangan,,
yang membuat aku masuk kedalamnya,,
dan merubah segala yang ada,,

Aku sadar akan diriku,tapi aku
tak mau ini berlalu,,
demi kebutuhan tak peduli ini salah bagiku,,
karna ini adalah peluang untukku,,

detik demi detik terus berlari,,
menyadarkan aku dalam sadarku,,
aku terperangkap di dalamnya,,
ingin rasanya kaki ini berlari,,
namun jiwa ini tak kuasa menahan
derita dalam diri,,
sungguh sedih meratap jiwa dalam hati,,
yang tak mampu melepas yang terjadi,,
aku sudah terlalu jauh masuk kedalamnya,,
yang membuat masa mudaku terjerat dengannya,,

Hati seakan rapuh tak berdaya,
diri hanya bisa pasrah pada jiwa,,
karna terbiasa hidup dalam dunianya,,
munhkin hanya ini jalanku yang ada,
menjadi resah dalam satu keluarga,
bersembunyi di balik kata dan jiwa.

#Sabrun Al Faqir