Selasa, 06 Agustus 2013

Ramadhan Telah Pergi

Bergulirnya waktu tak terasa telah menghantarkan kita di penghujung bulan suci Ramadhan,tamu agung kini akan berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan,deraian air mata kerinduan karena perpisahan dengan tamu agung ini dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana para sahabat meneteskan air mata kesedihanya karena takut tidak bisa bertemu kembali dengannya.

Hari demi hari yang kita lewati ,tak terasa sudah sampai pada akhir ramadhan. di penghujung ramadhan kali ini,Pernahkah kita menyadari bahwa sangat banyak amalan yang kita sia2kan ?

Kita harus menyadari,betapa banyak kelebihan yang terkandung dalam bulan suci ramadhan,ternyata banyak di antara kita yang mengabaikan amalan tersebut,sayangnya ramadhan telah tiba pada muara nya,kita hanya bisa meratapi,mengenang dan menunggu ramadhan yang akan datang.

Penulis teringat pada 1 Pepatah ”Akhir itu lebih baik dari pada awal”Karenanya akhir Ramadhan harus lebih berkualitas ketimbang sebelumnya,bukan justru sebaliknya.
 Disinilah komitmen itu harus dicanangkan. Apakah akhir Ramadhan Kali ini ingin menjadi akhir yang terbaik ? Jika iya, maka tak ada jalan lain yang harus ditempuh selain mengikuti petunjuk untuk melangkah dengan gagah di jalur akidah dan semangat dalam melaksanakan segala bentuk amalan. Perubahan karakter adalah target yang senantiasa dievaluasi setiap tahap,puasa tidak berakhir di lapar dan dahaga saja, melainkan pada peningkatan jiwa yang semakin sadar dan takwa.

IronisNya :
 Seiring majunya zaman,kebanyakan manusia yang penduduknya manyoritas muslim,Aceh khusus nya dan indonesia umumnya, di akhir ramadhan seperti ini,kegiatan mereka kebanyakan berpindah,misalkan awal ramadhan rajin ke mesjid,sekarang justru rajin ke pasar,mereka menyibukkan diri untuk berbelanja atau sering dikatakan dalam bahasa Aceh ”jak blo baje baroe”.

Namun jika kita melihat kehidupan para pendahulu kita,di saat akhir ramadhan seperti ini,meraka malah berlomba2 berbuat kebaikan (fastabiqul khairat) bukan malah berlomba2 ke pasar.
 Sebenarnya ini yang harus kita jejaki bagaimana para salafus shalih yang sangat sedih disaat ramadhan pergi,bukankah itu suatu pelajaran yang harus kita emban untuk meluruskan perilaku baik kita di bulan yang agung ini ? tapi sekarang justru sebaliknya,perilaku tersebut hanya segelintir orang yang percaya,bahwa bulan ramadhan adalah sarana untuk membentuk akhlak mulia yang akan memperoleh hasil yang bermakna yaitu bahagia dunia dan bergembira di yaumil akhir.

Ramadhan kita akan berakhir:
 Bulan yang penuh berkah dan bertaburan bonus dari Allah,sebentar lagi akan meninggalkan kita,alangkah sayang jika kalimat perpisahan ramadhan kali ini adalah kesia2an bukan kesempurnaan, Begitu indah perintah ibadah dari Allah ini,Kesehatan, ketabahan,serta kemudahan rezeki sangat terasa mendatangi,baru kita mengerti mengapa para sahabat menjadikan Ramadhan sebagai terminal.

 Alkisah !Enam bulan sebelum tiba ramadhan mereka menanti datangnya dan enam bulan setelah lewat mereka masih terikat dengan Ramadhan, karna kekhawatiran amal puasa tak diterima dan berharap hasil Ramadhan menjadi modal untuk menjangkau kasih sayang dan ampunan Allah SWT sampai Ramadhan berikutnya.
Bahagia di akhir merupakan tantangan sekaligus harapan,Mereka yang memandang ada kebahagiaan di akhir, akan memancarkan cahaya optimistik di wajahnya. Melangkah dengan pasti,menebar kebajikan ke kanan dan ke kiri. Sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah,karena Allah lah yang akan menarik badan dan jiwa sang hamba keharibaannya yang abadi.
Semoga,kita menjadi hamba yang taat dalam melaksanakan segala bentuk amalan dan meninggalkan segala bentuk larangan. Wallahu a'lam bissawab

#Sabrun jamil